Sunday, April 19, 2009

Keluarga Gedangsari, Gunungkidul



(Sumber foto dari Blogspot)

Keluarga Gedangan dan keluarga Wonosari



(Sumber foto dari Picassa)

Wednesday, March 04, 2009

Pindahan Blog

Blog yang ada di sini sudah tidak akan diupdate lagi. Untuk mengetahui perkembangan terbaru dari blog saya, silakan berkunjung ke blog pribadi saya:

Photobucket


Monday, January 19, 2009

Cover Bukuku

Sunday, January 11, 2009

Kura-kura yang Mengajak Anakku Suka Buku

Tulisan saya ini terinspirasi dari tulisan Clara Anita yang berjudul "Tikus Kecil yang Mengajari Anakku Membaca".

kirana2

Ada satu kata yang pantang diucapkan kepada Kirana (2,5 tahun), anak kami, yaitu: “Tidur.” Setiap kali disuruh tidur, dia pasti akan melawan. Meski jarum jam sudah melewati angka 10 malam, namun dia masih ingin bermain-main. Maka kami pun memakai siasat supaya mau naik ke tempat tidur yaitu dengan membacakan buku kesukaannya, “Franklin.” Serial buku karya Paulette Bourgeois dan Brenda Clark ini diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Edisi yang sedang digemari Kirana adalah “Franklin naik Sepeda”. Buku ini menceritakan perjuangan Franklin, si kura-kura, untuk bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan roda penolong. Semua teman-temannya sudah bisa naik sepeda tanpa roda penolong, hanya Franklin sendiri yang belum bisa. Akibatnya dia terkucil karena malu bermain-main dengan teman-temannya. Sudah berkali-kali dia mencoba, tapi selalu jatuh sehingga Franklin hampir merasa putus asa.
Franklin menemukan keberaniannya kembali justru ketika melihat Beaver, si beruang, temannya, kesulitan bergelantungan di papan ayun di taman. Padahal soal naik sepeda, Beaver adalah jagonya. Di taman itu, Franklin juga bertemu dengan Porcupine, si landak, yang sedang belajar menggunakan sepatu roda. Dia menggunakan pelindung lutut, siku dan helm di kepala.
“Itu dia!” Tiba-tiba dia punya ide. Franklin meniru Porcupine menggunakan pelindung tubuh sehingga dia bisa mengendarai sepeda.franklin
***
Cerita buku ini cukup sederhana sehingga dapat dipahami oleh anak Balita. Buku ini juga kaya dengan ilustrasi full color sehingga menarik minat anak. Namun sayangnya, ada beberapa edisi yang agak sulit dipahami anak Indonesia karena mengambil setting di dunia barat. Sebagai contoh edisi Helowin dan Peri Gigi, kurang kontekstual dengan kondisi budaya Indonesia. Meski begitu, masih ada sisi baiknya juga. Anak-anak akan lebih banyak mengenal budaya dari negeri lain.
Manfaat dari membacakan buku ini adalah pertambahan kosa kata pada anak-anak. Selama dua bulan terakhir, kami hanya membacakan edisi “Franklin Naik Sepeda”. Itu saja tidak setiap malam dibacakan. Yang mengherankan, Kirana banyak mengingat kata-kata dalam buku tersebut. Sebagai contoh, ketika kami membacakan kalimat: “Franklin sudah bisa berhitung . . . “ Dia segera menimpali, “. . . dan mengikat tali sepatunya sendiri.” Dia memang tidak mengingat semua kalimat dalam buku tersebut, tapi dia banyak mengingat kata-kata, terutama pada bagian yang seru.
Nama-nama tokoh dalam buku ini sengaja dibiarkan dalam bahasa aslinya, bahasa Inggris, tetapi diberi keterangan sesudahnya. Dengan demikian, anak-anak diajarkan mengenal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris. Sebagai contoh: Fox, si rubah; Bear si beruang; Moose, si rusa; Snail, si siput; Rabbit, si Kelinci; dan Hawk, si elang.
Tips Membacakan Buku untuk Anak
Berikut ini tips untuk membacakan buku bagi anak, berdasarkan pengalaman kami. Semoga ada manfaatnya:
1. Bacalah buku dengan antusias
Bacakan buku dengan konsentrasi penuh dan sungguh-sungguh. Bacalah dengan nada dan irama yang bervariasi. Antusiasme Anda dapat menular kepada anak. Anak dapat merasakan ketika Anda membaca dengan ogah-ogahan. Suatu hari, karena capek, istri saya membacakan dengan asal-asalan. Kirana langsung protes, “Kok membacanya kayak gitu sih.”
2. Singkirkan gangguan di sekeliling
Matikan televisi dan potensi gangguan lain. Ajak seluruh anggota keluarga untuk mendukung, dengan ikut mendengarkan cerita.
3. Bacalah dengan dinamis
Jangan segan-segan untuk memberi efek tertentu untuk menarik minat anak. Misalnya, ketika Fox, si rubah, memukul bola tinggi-tinggi, maka pembaca lalu menirukan bola yang sedang melambung tinggi dengan tangannya, sambil berbunyi: ”Wiiiii……..”
4. Jangan memaksa
Jika anak menolak untuk mendengarkan, jangan memaksa dia. Membaca buku harusnya menjadi peristiwa yang menyenangkan. Dengan memaksa, justru membuat dia akan trauma dan membenci buku.
5. Tetap membaca meski anak kelihatan cuek
Tips ini secara sepintas bertentangan dengan tips ke-4. Namun ada bedanya. Di sini, sang anak tidak menolak. Dia tetap mendengarkan tapi dilakukan sambil melakukan aktivitas lain. Sebagai contoh, Kirana mendengarkan sambil melompat-lompat di tempat tidur. Namun sesungguhnya telinganya tetap menyimak cerita tersebut. Hal ini kami ketahui karena dia dapat menceritakan kembali jalan cerita yang baru saja dibacakan.
6. Membacakan nama penulis dan ilustratornya
Biasakanlah anak menghormati karya pengarang dan ilustrator buku. Caranya dengan membaca judul buku dan nama pengarang/ilustrator.

kirana3

Tuesday, January 06, 2009

Gumbregan

Di kampung saya masih terdapat sebuah tradisi yang berasal dari agama asli Jawa. Tradisi ini bernama "Gumbregan", yang merupakan sebuah ritual doa kepada sang dewi Sri untuk meminta berkah bagi laku pertanian mereka.

Tradisi ini dilaksanakan setiap wuku Gumbreg, nama salah satu bulan pada penanggalan Jawa. Harinya, selalu pada Selasa malam, bertepatan dengan pasaran tertentu, namun saya lupa. Pasaran adalah nama-nama hari dalam kalender Jawa. Dalam satu putaran, orang Jawa mengenal lima nama hari('dino'), yaitu: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Bagi anak-anak, tradisi ini sangat mengasyikkan dan selalu ditunggu-tunggu. Selepas maghrib, mereka sudah berkumpul sambil membawa cething atau bakul nasi kosong. Setelah itu anak yang tertua akan meneriakkan pantun sederhana: "Kembang jagung, kembang jagung. Sing dituju omahe pak Agung!" Lalu anak-anak yang lain menanggapi dengan teriakan sekencang-kencangnya: "Amiiiiiin!" Teriakan ini memiliki dua fungsi: Pertama, memberitahukan arah tujuan kepada anggota rombongan. Kedua: memberitahu tuan rumah supaya segera bersiap-siap.

Begitu sampai pada rumah yang dituju, tuan rumah segera mengeluarkan tampah (nampan bambu) yang berisi bermacam-macam makanan tradisional. Kebanyakan adalah umbi-umbian, seperti uwi, gembili, garut, ganyong, ubi, singkong, suwek, talas, gadung, dan ketupat. Diterangi lampu minyak tanah dan oncor, sang tuan rumah yang berprofesi sebagai petani lalu mengucapkan doa. Di sinilah sisa-sisa agama Jawa begitu kentara. Sang petani tidak mengucapkan doa menggunakan bahasa Arab atau mantra-mantra Hindu, tapi berbahasa Jawa sehari-hari. Doa ini ditujukan kepada sang Dewi Sri, yaitu sesembahan orang Jawa yang menguasai bidang pertanian.

Dalam bahasa Indonesia, bunyi doanya demikian: “Anak-anak, pada bulan Gumbreg ini kita berdoa kepada Dewi Sri supaya panenan kita melimpah.” Lalu anak-anak berteriak sekencang-kencangnya: ”Nggih!!!”. “Mendoakan juga alat-alat pertanian seperti garu, bajak, cangkul, dan sabit, supaya tidak mudah rusak. Mendoakan juga ternak-ternak seperti sapi, kambing dan ayam supaya kalis dari penyakit.” Setiap satu kalimat berhenti, anak-anak selalu menimpali dengan seruan: “Nggih.”

Usai didoakan, maka sesajen yang sudah disiapkan oleh tuan rumah itu lalu dibagi-bagikan dan dimasukkan ke dalam bakul-bakul yang sudah disusun melingkar di sekililingnya. Pembagian makanan biasanya dilakukan oleh anak yang tertua dalam rombongan kami. Setelah semua habis dibagikan, maka pimpinan rombongan meneriakkan tujuan berikutnya: “Kembang jati, kembang jati. Sing dituju omahe pak Kardi!!”

****

Ketika merenungkan kembali tradisi ini, saya terkagum-kagum betapa para leluhur itu telah memiliki kearifan dalam menyikapi bumi ini. Dalam legenda Jawa, dikisahkan seorang perempuan bernama Dewi Sri yang meninggal secara tragis. Namun secara ajaib, tubuhnya menyatu dengan bumi dan tumbuh tanaman padi di atasnya. Itu sebabnya, orang Jawa sangat memuliakan Dewi Sri.

Dalam dunia pertanian ada unsur ketidakpastian karena ketergantungan pada kondisi alam yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Hingga saat ini, manusia belum memiliki pengetahuan atau teknologi yang dapat mengendalikan perubahan iklim, maupun memastikan bebas dari serangan hama dan penyakit. Ketidakpastian ini menimbulkan kesadaran di antara manusia pada zaman dulu untuk menghargai alam. Salah satunya tercermin dalam bentuk ritual-ritual yang meminta pertolongan dari Penguasa Alam, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, manusia zaman dulu juga tidak berlaku sembarangan kepada tanah pertanian.

Sayangnya, akibat “Revolusi Hijau” yang merupakan turunan dari kapitalisme global, kearifan menjadi terpinggirkan. Tradisi seperti ini dianggap takhayul, irasional dan in-efisien. Karena itu, banyak tradisi-tradisi petani yang tidak mendapat lagi dalam pertanian modern.

Dalam pertanian modern, tanah dan tanaman hanya dianggap sebagai salah satu komponen dari industri pertanian. Tanah dan tanaman dipandang tidak lebih dari sekadar “alat” dan “modal” yang dapat dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dengan biaya semurah-murahnya. Maka muncullah istilah “intensifikasi” pertanian. Tanah digenjot untuk menghasilkan sumber pangan (baca: padi), dengan cara pemberian pupuk kimia pabrik, pengolahan tanah menggunakan mesin, pemberantasan hama menggunakan pestisida dan cara memanen pun sudah menggunakan mesin. Sekarang ini jarang sekali ditemui petani yang memetik bulir-bulir padi dengan cara ani-ani, yang dilakukan bersama-sama sambil bersendau-gurau.

Yang memprihatinkan, sampai saat ini Revolusi Hijau ini masih belum dapat mengangkat derajat petani. Yang terjadi, petani justru semakin terpinggirkan karena mengalami ketergantungan dengan pemerintah dan kaum pemodal. Pada musim tanam maka kita akan mendengar berita yang berulang-ulang: Benih mahal, pupuk kimia langka, pestisida pabrik menghilang dari pasaran. Petani kemudian kelimpungan karena terlanjur sangat tergantung pada produsen alat pertanian. Lalu, ketika musim panen tiba, harga gabah dibuat anjlok sehingga untuk kaum petani tidak dapat menutup ongkos produksi. Akibatnya, petani terpaksa berhutang untuk menutupi kehidupan sehari-hari.

****

Inilah saatnya untuk mendefinisikan kembali paradigma kita tentang pertanian. Arus kapitalisme yang serba serakah telah menggerus sektor pertanian. Tanah pertanian menjadi rusak karena ditimbuni dengan pupuk kimia. Keseimbangan alam menjadi terganggu karena penetrasi pestisida yang over dosis. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah nasib petani yang tak kunjung membaik. Saya tidak memiliki kompetensi di bidang pertanian, namun alangkah baiknya jika para pengambil kebijakan di bidang pertanian sudi untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap peradaban.

Friday, December 26, 2008

Dumbeg

gumbegNama makanan ini agak unik dan menurut saya cukup lucu: "Dumbeg". Ketika pertama kali mendengar nama ini, pikiran saya segera membayangkan film kocak "Dumb and Dumberer". Setelah itu, saya teringat tradisi "Gumbregan" di desa saya. Setiap wuku Gumbreg dalam penanggalan Jawa, warga kampung saya menggelar ritual untuk mendoakan alat-alat pertanian seperti luku (bajak) garu, pacul, sabit dan sapi. Para petani mengeluarkan sesaji berupa nasi gudangan dan umbi-umbian rebus seperti uwi, gembili, suwek, garut, ganyong, singkong, ketela rambat, dll. Setelah didoakan, sesaji ini dibagikan secara merata kepada anak-anak kampung. Setelah itu mereka pindah ke rumah petani lain. Tradisi ini dilaksanakan setelah Maghrib. Anak-anak berkunjung dari rumah ke rumah sambil membawa bakul nasi untuk mengumpulkan makanan. Mirip dengan tradisi Halloween di mana anak-anak mengumpulkan permen dari rumah ke rumah.
Kembali ke Dumbeg. Makanan ini terbuat dari tepung nasi yang dibumbui dengan gula kelapa, kemudian dibungkus menggunakan daun kelapa muda (janur) dengan cara dililitkan menyerupai kerucut. Setelah itu dikukus dengan matang.
Cara memakannya dengan memegang bagian bawah yang lancip, membuka lilitannya sedikit demi sedikit untuk menyantapnya hingga habis. Rasanya tentu saja manis, namun yang menarik adalah aroma pembungkusnya. Karena mengalami proses pemanasan, maka bau yang dimiliki oleh daun kelapa itu meresap ke dalam makanan. Hal ini menimbulkan aroma yang khas.
Selain dumbeg, makanan lain yang dibungkus dengan janur adalah ketupat dan legondo. Kalau ketupat, tentu sudah banyak orang yang tahu. Bagaimana dengan legondo? Legondo adalah penganan yang terbuat dari ketan, yang bagian tengahnya diberi daging cincang, abon atau kalau pingin ngirit diberi parutan kelapa. Memang mirip sekali dengan lemper, namun dibungkus dengan janur dengan cara dililitkan membentuk silinder, lalu diikat dengan tali dari bambu. Setelah itu dikukus sampai masak.
Pada zaman yang serba praktis ini, penganan jenis seperti ini tidak lagi populer karena cara membuatnya yang agak ribet. Karena ingin cepat, maka untuk membuat ketupat tidak lagi menggunakan bungkus janur, melainkan dibungkus plastik saja. Hal ini seperti ini sebenarnya kurang tepat karena aroma janur akan hilang dari ketupat. Selain itu, ketika mengalami pemanasan yang sangat tinggi, bungkus plastik ini akan mengalami perubahan kimiawi yang bersifat racun.
Selain janur, nenek moyang kita telah menemukan berbagai jenis pembungkus makanan yang lebih ramah lingkungan dan sehat. Hampir semua suku di Indonesia mengenal daun pisang sebagai pembungkus makanan. Entah itu untuk makanan yang direbus, dibakar, dipanggang atau pun dipepes. Daun pisang juga menimbulkan aroma yang khas.
Dulu, di kampung saya menggunakan daun jati sebagai pembungkus nasi pada acara kenduri. Nasi yang masih panas dibentuk bulat seukuran bola voli, kemudian dibungkus dengan daun jati. Nasi yang masih panas, ketika bersentuhan dengan daun jati juga menimbulkan aroma yang enak. Daun talas juga dapat dipakai untuk membungkus makanan yang akan dipepes. Ada juga daun singkong yang dimanfaatkan untuk bungkus buntil.
***
Tapi hendak dikata. Gerusan gelombang kapitalisasi telah meminggirkan kearifan lokal ini. Sekarang kita sulit menemukan tempe mentah yang masih dibungkus dengan daun jati. Kebanyakan tempe sudah dibungkus plastik dan menggunakan kedelai impor yang berbiji besar-besar. Bahkan sudah ada pengusaha yang membuka usaha pengalengan tempe. Dulu, saya masih menjumpai ibu-ibu yang menggendong segulung besar daun jati untuk dijual ke pasar. Sekarang sudah tergantikan oleh kertas dan plastik. Inikah yang disebut kemajuan zaman? Atau justru menuju kepada kehancuran peradaban?
Sekarang, nasi gudeg pun dibungkus menggunakan Styrofoam. Dulu, ketika mahasiswa, saya masih bisa menikmati nasi gudeg di atas pincuk daun pisang, dimakan dengan tangan telanjang. Rasanya nikmat sekali. Waktu kecil, anak-anak di kampung saya terbiasa makan nasi uduk dengan alas daun jati yang pada acara bersih desa. Dulu, pada acara Natal, konsumsinya dibungkus dengan daun pisang. Kami menyebutnya “Sedan Hijau” karena bentuknya mirip mobil sedan. Sekarang, konsumsi Natal dikemas dengan kardus, Styrofoam atau setidaknya kertas minyak. Ini sebuah kemajuan atau kemunduran? Entahlah. Yang jelas, kalau saya merindukan makanan zaman masih kecil, saya terpaksa harus menjelajah tempat-tempat yang lebih terpelosok lagi. Pertengahan tahun 2008, ketika mengirimkan air bersih ke GKJ Baran, Gunungkidul, kami disuguhi uwi, gembili dan kacang rebus. Saya seakan dibawa oleh kapsul waktu kembali ke masa 30 tahun yang lalu.

Vox Populi, Vox Duit

Berkaitan dengan Pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi membatalkan aturan pemakaian sistem nomor urut dalam penetapan calon anggota legislatif. Sebagai gantinya, maka digunakan suara terbanyak. Itu artinya, caleg yang bernomor urut nomor wahid tidak otomatis akan menjadi anggota DPR/D jika suara yang diraihnya tidak memenuhi bilangan yang ditetapkan. Sebaliknya, caleg yang bernomor buncit sekalipun masih ada peluang untuk menjadi anggota dewan.
Lalu apa implikasi dari ketentuan ini. Pertama, peraturan ini telah menihilkan kuota 30 persen bagi perempuan di lembaga wakil rakyat. Aturan baru ini ibarat sebuah pertarungan bebas. Siapa yang kuat, dia adalah yang menang. Secara sepintas hal ini kelihatan demokratis. Tapi jika ditilik lebih jauh, pertarungan bebas ini hanya dapat berlangsung fair jika dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan yang sama. Dalam kenyataannya, karena tertindas oleh sistem patriarkis selama bertahun-tahun, maka kelompok perempuan kurang memiliki sumber daya dan akses informasi yang dapat digunakan dalam pertarungan bebas ini. Jadi ini seperti pertarungan antara juara kelas berat dengan kelas bulu. Seperti antara pertarungan antara Daud dan Goliat. Sayangnya, dalam kehidupan zaman sekarang tidak selamanya dimenangkan oleh Daud.
Implikasi kedua, banyak politisi karbitan yang mendadak menjadi anggota dewan. Sistem baru ini memberi kesempatan kepada setiap orang yang memiliki dana yang besar atau popularitas yang mentereng untuk menjadi wakil rakyat. Orang yang sedang ngetop dan memiliki banyak penggemar seperti artis atau penyanyi punya peluang besar untuk menang. Orang yang punya banyak uang untuk dibelanjakan dalam bentuk iklan akan mudah meraih suara. Tapi bagaimana dengan kompetensi mereka? Saya tidak mengatakan semua selebritas atau orang kaya tidak punya kompetensi, tapi lihatlah saja buktinya artis-artis yang sekarang menjadi anggota dewan yang terhormat. Berapa banyak di antara mereka yang lantang menyuarakan kepedihan rakyat? Apakah mereka rajin mengikuti rapat-rapat dengar pendapat? Apakah mereka mampu menyerap aspirasi rakyat dan mengartikulasikannya dengan tepat? Kemampuan seperti ini tidak dapat diperoleh dengan sekejap, namun hasil dari tempaan dari pengalaman berorganisasi selama menjadi kader anggota partai.
Sebagai gambaran, ketika pergi ke Solo Baru, saya melihat poster kampanye seorang caleg dari partai moncong putih yang menampilkan seorang mantan “pendeta” berinisial SH. Dia dulu berasal Muslim. Dan ketika dia menganut agama Kristen, maka terjadilah kehebohan, apalagi namanya berbau Arab. Banyak yang gereja segera mengundangnya untuk memberikan kesaksian. Kaset VCD kesaksiannya laku keras. Bahkan ada sebuah denominasi gereja yang kemudian menahbiskannya menjadi pendeta.
Namun jabatan kependetaan ini tidak berlangsung lama, karena SH ini kemudian kembali merasuk agama Muslim. Gereja yang dipimpinnya sekarang sudah ditutup. Sekarang wajahnya terpampang dengan megah pada berlembar-lembar poster di pinggir jalan. Dia berjanji akan membela rakyat. Dengan melihat kelakuannya seperti itu, apakah kita rela diwakili olehnya. Saya tidak mempersoalkan kepindahannya menjadi penganut Muslim. Bagi saya, perpindahan iman adalah masalah personal, antara orang tersebut dengan Tuhannya. Tidak ada orang lain yang bisa berdiri di tengah-tengah. Jika ada orang beragama lain yang mengakui Kristus sebagai Juruselamatnya, saya pasti akan bergembira. Sebaliknya, jika ada orang Kristen yang merasuk iman lain, jika itu membuatnya menjadi orang yang lebih baik dan saleh, maka saya dapat memahami tindakannya.
Yang membuat saya heran adalah mengapa dia bisa menjadi caleg dari partai tersebut. Apakah dia dicalonkan setelah menjadi kader partai tersebut? Atau karena prestasi tertentu? Atau dari faktor lain? Entahlah saya tidak punya data yang akurat. Tapi sejauh pengamatan saya, sekarang ini semakin banyak orang yang mendadak menjadi politisi. Tanpa pengalaman dalam dunia politik, tiba-tiba poster mereka terpampang dengan megahnya.
Secara umum, sebagian besar pemilih di Indonesia tidak melihat program yang ditawarkan oleh kandidat sebagai dasar dalam memilih. Mereka lebih terpengaruh oleh sentimen kelompok (agama, suku, aliran, dll), pengaruh pimpinan infomal dan [mungkin] uang. Kandidat yang mampu menampilkan orkes campursari atau dangdut lebih berpotensi meraup suara daripada kandidat yang menggelar acara debat/dialog program. Itu sebabnya, tidak dibutuhkan kemampuan berorasi atau berorganisasi untuk menang dalam Pemilu nanti. Siapa yang bisa menyentuh emosi dasar manusia, dialah yang akan menang. Vox Populi, Vox Duit

Wednesday, December 24, 2008

Banser Amankan Gereja


Kebaktian malam Natal di Klaten berlangsung dengan aman, tenteram, dan tanpa insiden yang berarti. Pada malam Natal ini GKI Klaten terpaksa mengadakan kebaktian selama dua kali karena keterbatasan tempat. Kebaktian pertama dimulai pukul 18.00 dan kebaktian kedua pada pukul 22.00 WIB.

Pada siang harinya, kami sempat dibuat was-was dengan inspeksi keamanan dari pihak kepolisian sampai sebanyak tiga kali. Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya belum pernah diadakan inspeksi seperti ini. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh tim Gegana pada pukul 10.00 pagi. Mereka memeriksa seluruh bangku-bangku gereja, mengecek setiap pot dan melongok setiap kolong dan bawah panggung.

Enam jam kemudian, datang lagi tim dari kepolisian. Kami mengatakan bahwa gereja sudah diperiksa oleh tim Gegana, tetapi mereka tetap ingin memeriksa sekali lagi. "Untuk memastikan supaya situasi aman,"kata pimpinan rombongan. Kami persilakan mereka mengerjakan perintah atasan. Toh tidak ada sesuatu yang mengganggu persiapan kami. Menggunakan detektor metal, mereka sekali lagi memeriksa gedung gereja. Menurut saya, alat itu sebenarnya tidak berfungsi efektif karena banyak metal logam di gereja yang pasti akan membuat alat itu aktif. Tapi toh tak mengapa.Setidaknya penggunaannya dapat menciptakan rasa aman.

Yang mengherankan, satu jam kemudian Kapolres Klaten beserta dengan stafnya meninjau lagi kesiapan kami. Ini baru pertama kali perwira polisi tertinggi di Klaten memeriksa langsung pengamanan Natal. Dalam hal ini kami sebagai warga masyarakat dan warga negara merasa berterimakasih dan terlindungi. Namun hati kecil merasa sedikit heran apakah harus dilakukan pemeriksaan secara beruntun? Ada apa gerangan? Apakah ada sesuatu yang membuat aparat keamanan harus waspada?

Pertanyaan ini menggantung di benak sebagian panitia hingga pelaksanaan kebaktian. Kebaktian I dihadiri lebih dari 300 orang. Seluruh kursi terisi penuh. kebaktian yang dilayani oleh pdt. Pelangi Kurnia Putri ini diiringi oleh musik Ensemble Gitar. Ada enam pemuda yang mengiringi pujian menggunakan gitar akustik. Sedangkan Kebaktian II yang dipimpin oleh pdt. Phan Bie Thon dihadiri lebih sedikit jemaat. Meski begitu, 90 persen kapasitas tempat duduk terisi oleh anggota jemaat.

Selain mendapat bantuan pengamanan dari kepolisian, kami juga mendapat pengamanan dari Banser (Barusan Serbaguna) dari NU. Ada puluhan pemuda Muslim berpakaian doreng-doreng yang ikut berjaga di depan gereja. Selama ini, gereja kami memang menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan dari NU. Setiap mengadakan Pasar Murah, kami sering melakukannya bersama-sama dengan para santri dan Pondok Pesantren "Pancasila Sakti", pimpinan kyai karismatik mbah Lim. Itu sebabnya, pada malam Natal ini, mereka menawarkan diri untuk ikut menjaga keamanan selama ibadah berlangsung.

Lihiat videonya di sini

PIC_1022

Ibadah Malam Natal, 24 Desember di GKI Klaten PIC_1024

Pengamanan dari Banser NU

Friday, December 12, 2008

Ulat Jati Goreng

Kondisi geografis kabupaten Gunungkidul adalah pegunungan kapur. Tanaman yang cocok untuk keadaan ini adalah pohon jati. Pada musim hujan, ketika daun jati bersemi, banyak ulat yang memakan habis daun-daunnya. Namun warga Gunungkidul justru mensyukuri hama ini karena dapat dimakan.
Ulat ini berwarna hitam. Panjangnya tidak lebih dari sebatang korek api. Jika dipegang, kadang mengeluarkan cairan hitam. Ketika masihdalam bentuk ulat, dia akan memakan habis daun jati hingga tersisa kerangkanya saja. Begitu tiba waktunya untuk bermetamorfosa jadi kepompong, ulat ini akan turun dari atas pohon ke tanah. Caranya dengan terjun menggunakan air liurnya yang membentuk sulur. Mirip yang dilakukan oleh binatang laba-laba atau spiderman.

Sesampai di tanah, dia akan mencari tempat tersembunyi. Biasanya di balik daun atau batu. Di situ, dia membungkus dirinya dengan air liur dan butiran tanah, kemudian bertapa untuk berubah bentuk menjadi kepompong. Warnanya coklat tua dan permukaannya licin. Nah kepompong inilah yang enak dimakan. Rasanya gurih.

Cara memasaknya cukup sederhana. Kempompong atau masyarakat setempat menyebutnya 'entung' ini dicuci bersih. Setelah itu ada yang mengukusnya lebih dulu, tapi ada yang lansung menggoreng dengan bumbu bawang putih dan garam. Rasanya? Mak nyuuuuusss! Tapi awas, kalau Anda sering terkena alergi, makanan ini bisa menimbulkan gatal-gatal.








Monday, December 08, 2008

Pak Karyono

Pemazmur berkata bahwa rata-rata masa hidup manusia adalah tujuh puluh tahun. Jika kuat maka dapat sampai delapan puluh tahun. Hari ini saya menyaksikan orang-orang yang mendapat ‘bonus’ umur dari Tuhan.

Setiap bulan Desember, gereja kami mengadakan acara Christmas Carol. Namun berbeda dengan tradisi barat yang menyanyikan lagu-lagu Natal di keramaian atau ke rumah-rumah untuk mendapatkan sedekah, kami memodifikasinya dengan mengunjungi anggota-anggota jemaat yang karena mengalami keterbatasan fisik mereka tidak dapat merayakan Natal. Kami menghadirkan perayaan Natal ke rumah mereka.

Bertepatan dengan hari Idul Adha, kami membagi diri ke dalam lima kelompok, masing-masing dengan dua mobil menuju tempat-tempat yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan rombongan saya adalah rumah pak Karyono. Hari ini dia merayakan ulang tahun yang ke 102 tahun! Wow, umurnya sudah lebih dari satu abad. Dan yang lebih mengherankan, dalam usia sebanyak itu, kesehatannya masih sangat baik. Pendengarannya masih sangat baik, pandangannya masih sangat jernih dan yang lebih dahsyat adalah ingatannya masih sangat kuat. Kepikunan belum menyentuhnya sama sekali.

Pak Karyono

Sebagian dari anggota rombongan kami adalah mantan-mantan murid pak Karyono di SMP Kristen Klaten. Begitu ketemu, pak Karyono langsung mengingat wajah-wajah mereka. “Kamu dulu ‘kan yang jadi mbok emban,” kata pak Karyono kepada bu Diah, pensiunan guru Petra Surabaya. Pak Karyono teringat pada pementasan wayang orang yang sebagian dimainkan oleh orang-orang keturunan Tionghoa di Klaten. Pak Karyono yang melatih mereka.
Ketika melihat pak Komardiyanto, pak Karyono segera memeluknya dengan erat-erat. Pak Komardiyanto bercerita, ketika menjadi dia menjadi murid SMP Kristen, dia senang bermain ke rumah pak Karyono sebab di sana sering mendapat wejangan-wejangan tentang kehidupan. Pak Ko, demikian panggilan akrab pak Komardiyanto, mengagumi kesederhanaan pa Karyono. Meski bergaji pas-pasan, tetapi pak Karyono tidak pernah mengeluh. Setiap tugas diterimanya dengan ikhlas dan penuh sukacita.
“Pada hari ulang tahun ini, apa doa permintaan pak Karyono?” tanya bu Diah.Pak Karyono
“Saya tidak minta umur panjang. Saya hanya minta kesehatan yang baik,” kata pak Karyono dengan lantang. Menurutnya, umur manusia merupakan misteri dari Allah. Sebelum berdoa, pak Karyono bercerita bahwa dia sebenarnya masih berdarah biru. Dia adalah keturunan dari sultan Cirebon.
“Saya bersyukur karena memiliki bapak tiri,” kata pak Karyono dengan suara bergetar, “sebab berkat dia, saya bisa mengenal Kristus.” Dia dibaptis oleh pendeta Belanda yang ada di Klaten. Namun karena sebagian besar jemaatnya tidak bisa berbahasa Belanda, maka gereja yang menjadi cikal bakal GKI Klaten itu lalu dilayani oleh pendeta berdarah Ambon yang berbahasa Indonesia.
Hari itu, saya baru pertama kali bertatapan muka langsung pak Karyono. “Saya suami pendeta Pelangi, pak” kata saya memperkenalkan. “Wah, Anda tambah gemuk,” kata pak Karyono dengan spontan.
“Lho tahu dari mana, pak?” tanya saya.
“Ketika kalian menikah, saya datang kok,” sahut pak Karyono, ”waktu itu, Anda memakai pakaian Jawa.”
Saya mengangguk penuh kekaguman. Peristiwa empat tahun yang lalu itu masih diingatnya dengan baik.
***
Selain mengunjungi pak Karyono, kami juga mengunjungi mak Kuat. Usianya sudah mencapai 85 tahun, tapi tubuhnya masih kuat. Karena osteoporosis, tubuhnya mulai bungkuk. Tapi dia masih kuat berjalan ke Mak Kuatgereja menempuh jarak lebih dari dua kilometer. Dia selalu ikut kebaktian pagi, pukul enam.
Ketika yang orang-orang yang lebih muda, selalu datang terlambat, mak Kuat selalu datang awal. Setengah jam sebelumnya, dia sudah duduk manis di bangku gereja. “Saya malu kalau datang terlambat ke gereja” kata mak Kuat.
Kami juga mengunjungi ibu Tan Lay Tjie (80 tahun), mak Yun dan pak Kamto.
***
Dalam perjalanan pulang, saya mengagumi kesetiaan iman mereka. Dalam usia senja dan keringkihan tubuh, mereka tetap memiliki pengharapan yang kuat di dalam Kristus. Semoga saya dapat meneladani iman sederhana mereka.

Christmas Carol

Saturday, December 06, 2008

Pasar Buku Murah

Tertarik oleh kata "MURAH", hari ini saya menyempatkan diri untuk datang ke
PESTA BUKU MURAH JOGJA di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Jogjakarta. Saat berjalan masuk, tanpa sengaja saya bertemu dengan Pembri (teman satu pesawat saat ikut pelatihan di Bali). Rupanya dia sedang menjaga stan "Tanda Baca". Setelah say hello sejenak, dia lalu menghadiahkan tiga buah komik tentang Penanggulangan Bencana. Saya dan isteri lalu berpamitan untuk masuk ke gedung Kunthi. Di sini kelompok Gramedia dan Agromedia yang mendominasi. Namun saya tidak begitu tertarik karena diskon yang ditawarkan hanya 10 (sepuluh) persen. Buat apa saya beli di sini? Toh saya bisa mendapatkan diskon yang lebih besar di toko buku Toga Mas. Untuk sesaat saya merasa kecewa karena berharap bisa mendapatkan buku yang lebih murah daripada toko buku reguler.
Ketika itu, sedang ada workshop "PENULISAN UNTUK GURU" bersama Agromedia Grup & McDonald. Saya menyempatkan diri untuk mendengarkan uraian penulis. Tapi lama-kelamaan saya merasa bosan, karena informasi yang disampaikan oleh nara sumber kebanyakan sudah saya tahu. Saya lalu melirik peserta lain. Kelihatannya, mereka adalah para guru. Jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Semoga saja mereka terdorong untuk menulis. Oh, ya...sebenarnya acara itu tidak layak disebut workshop karena peserta tidak dilibatkan secara aktif. Mungkin lebih tepat disebut sebagai ceramah atau penataran saja.
Tidak satu buku yang menarik minat saya di gedung ini. Saya lalu masuk ke gedung di sebelah barat. Mata saya langsung terikat pada stan Yusuf Agency. Stan ini terkenal karena berani membanting buku sangat murah. Stan ini sangat digemari oleh pengunjung buku, tapi paling dibenci oleh penulis dan penerbit. Soalnya kalau ada buku yang jatuh ke Yusuf Agency ini, maka "martabat" penulis dan pengarang langsung melorot ke titik nadir...he...he..he... Untunglah saya tidak menjumpai buku yang saya tulis di sini.
Di sini kami membeli "Kala Yesus Jadi Tuhan", karya Richard E. Rubenstein, terbitan Serambi. Pada label aslinya tertera Rp. 64.900,- tapi didiskon hingga Rp.20.000,- Dari penerbit yang sama, kami juga mendapatkan buku "The Secret Supper" tulisan Javier Sierra. Harganya telah dipotong dari Rp. 49.000,- menjadi 20 ribu perak. Selain itu, kami juga membeli buku "Jalan Salib untuk Anak-anak" terbitan Kanisius dan "Tempat dan Peran Yesus di Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam", karya Wienata Sairin. Harganya hanya 10 ribu perak. Berpindah ke stan berikutnya, kami membeli Chicken Soup di Galaxy Media. Yang menarik, di sini buku Harry Potter dijual seharga Rp. 99.000,-. Sementara itu, di stan Gramedia Pustaka Utama, buku yang sama dibandrol Rp. 208.000,- Itu saja sudah didiskon oleh Gramedia!
Setelah itu, kami beranjak ke gedung Shinta. Dalam gedung utama yang sejuk dan nyaman ini, ada puluhan stan yang berlomba menawarkan buku. Ada juga Talkshow "ASOI, GEBOI, BOHAI" bersama Yudhi (Gradien Mediatama). Ketika saya amati, yang menyaksikan pertunjukan incang-bincang ini juga tidak banyak.
Jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Saya bertanya dalam hati, "Apakah promosi seperti ini cukup efektif?" Pada kanyataannya, kaum remaja yang menjadi sasaran pembaca dari buku ini justru tidak terlihat di sana.
Kebanyakan yang datang adalah mahasiswi dan panitia yang sedang iseng karena tidak ada kerjaan. Di gedung ini kami menemukan Bok Bos, stan kesukaan kami. Entah apa arti namanya. Yang jelas, mereka punya spesialisasi menjual buku impor bekas. Bukan sembarang buku, melainkan buku-buku yang bermutu bagus.
Saya membeli "Principles And Types of Speech Communication", edisi hardcover, terbitan Longman. Sedangkan isteri saya memilih "A Cup of Chicken Soup", edisi hardcover.
Jika Anda tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya, Anda masih punya kesempatan selama dua hari untuk menambah koleksi perpustakaan Anda dengan biaya murah.
Pameran ini ditutup besok Senin, bertepatan dengan hari Idul Adha

Serba Sapi

Meski sempat menyurut saat wabah penyakit sapi gila mendunia, namun bisnis makanan berbahan daging sapi tetap berkibar di Yogyakarta. Bahkan warung makan yang menawarkan menu dari iga sapi mendapat respons positif oleh masyarakat di kota gudeg ini. Di wilayah Deresan, tepatnya di sebelah selatan percetakan Kanisius, terdapat warung makan yang memajang nama unik. Mereka memplesetkan penyakit sapi gila (mad cow) menjadi "Cow Mad" alias "Penggila Sapi" sebagai penanda rumah santap ini. Tempatnya cukup asri. Ada bangunan pendopo jawa di bagian tengah yang tak berdinding di semua sisinya. Meja untuk tamu berupa meja kayu berbentuk empat persegi panjang dan tempat duduknya terbuat dari bangku kayu tanpa sandaran. Orang Jawa menyebutnya 'dingklik.' Aku dan isteri mampir ke sini setelah mencari buku di showroom Kanisius. Usai memesan makanan, aku segera membuka laptop untuk mencari koneksi internet sembari menunggu masakan disiapkan. Menurut promosi, katanya sih Wifi-nya gratis, tapi harus mendapat kata sandi dulu dari pengelola warung. Meskipun sudah mengantongi kata sandi, aku kesulitan untuk login. Meski sudah berkali-kali dicoba, tetapi gagal.Photobucket Untunglah masakan segera disajikan. Hanya kurang dari 10 menit. Ini tergolong cepat karena kami memesan dua porsi iga bakar dan cha kangkung ikan asin. Mungkin ini karena saat itu tidak banyak pengunjung yang memesan makanan. Selain kami, hanya ada dua orang yang sedang bersantap di sana. Setelah kami, lima mahasiswa datang belakangan. Aku menyisihkan laptop untuk berkonsentrasi pada makanan. Begitu garpu menyentuh iga bakar, dagingnya langsung terlepas, tanpa perlu dicongkel dengan keras. Dagingnya memang sangat empuk. Ketika dikunyah, mulut pun tidak perlu kerja keras untuk melumatkannya. Bumbunya begitu meresap sampai ke dalam. Aroma rempah-rempah tercium menggugah selera. Hidangan ini semakin mantap dengan ditemani teh rempah-rempah. Ya, selain teh, ditambahkan pula jahe, kapulaga, kayumanis dan berbagai bahan tradisional lain sehingga menciptakan efek hangat saat minuman ini melintasi tenggorokan dan perut. Selain di Cow Mad, kami juga berkesempatan mencoba menu iga bakar di warung "Iga Bakar." Warung ini pernah diulas di harian Kompas Minggu. Itu sebabnya, ketika kami mengunjungi acara Pesta Kuliner di bekas hotel Ambarukmo, kami tertarik untuk mencicipinya. Kami memesan iga bakar madu, iga bakar BBQ dan sop iga. Kesan pertama yang tercipta adalah ukuran iga yang sangat besar. Di warung lain, daging yang masih menempel pada tulang iga terlihat sangat tipis. Namun di warung ini, daging yang masih menempel cukup tebal. Lebarnya hampir sama dengan telapak tangan perempuan dewasa. Komentar yang terlontar spontan adalah,"Wah gedhe banget. Apa bisa habis, nih!" kata kami.Photobucket Sama seperti di Cow Mad, dagingnya cukup empuk. Tidak dibutuhkan tenaga ekstra untuk mecongkel daging dari tulangnya. Menurut Kompas, rahasianya adalah pada waktu perebusan yang cukup lama. Sejak dari subuh, para pekerja di warung makan ini sudah merebus potongan iga selama berjam-jam. Ketika pesanan datang, maka mereka tinggal membumbui dan membakarnya di atas api untuk menciptakan efek gosong dan karamel. Kalau membandingkan dari sisi bumbu, secara pribadi aku lebih menyukai sajian Cow Mad. Pada warung Iga Bakar ini, yang dominan adalah rasa manis untuk iga bakar madu. Sedangkan pada iga bakar BBQ, hanya terpaut rasa asam saja. Rasa khas barbeque tidak ada sama sekali. Namun dari sisi ukuran potongan daging, warung Iga Bakar patut diacungi jempol. Sampai malam hari, kami tidak makan lagi karena perut masih sangat kenyang.Photobucket Selain di dua tempat ini, sebenarnya masih banyak warung lain yang menyajikan menu daging sapi. Di Ambarukmo Plaza, ada restorang Bakar Batu. Ciri khasnya adalah pada teknik pemanasannya. Konon menggunakan batu yang panas di dalam mematangkan daging. Namun aku tidak melihat ada perbedaan rasa dibandingkan dengan teknik pemanggangan di atas bara api. Kami mencoba resto ini karena terdorong oleh rasa penasaran. Kami teringat teknik serupa yang digunakan oleh salah satu suku di lembah Baliem, Papua. Apakah pemilik rumah makan ini terinspirasi dari suku ini? Entahlah. Seandainya benar, mestinya mereka menyisihkan sebagian dari keuntungan mereka untuk membayar royalti kepada suku di lembah Baliem ini. Ada juga warung makan bernama "Waroeng"dan "Obonk" yang juga menyajikan menu daging sapi. Kedunya termasuk pelopor dalam mengenalkan menu steak. Di warung inilah aku pertama kali mengenal dan mencecap sirloin dan tenderloin. Namun, jenis makanan yang membuat aku terkesan justru mayoines-nya. Rasanya gurih dan lembut.

Wednesday, December 03, 2008

Lelaku Jalan Salib

Akibat dari reformasi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther, John Calvin dan kawan-kawan, gereja protestan cenderung ‘lebih miskin’ dalam hal laku spritualitas, seperti yang dimiliki oleh gereja katolik. Ketika akan merayakan hari-hari besar gerejawi, pegiat gereja protestan kadang menemui kesulitan dalam merancang kegiatan. Sebagai contoh, pada saat menggelar ibadah Rabu Abu sebagai penanda masa pra paskah, gereja kami kesulitan merancang liturgi ibadah karena belum pernah memiliki tradisi ibadah ini.

Kegagapan serupa juga ditemui ketika Panitia Paskah akan merencang prosesi Jalan Salib pada ibadah Jum’at Agung tahun depan. Atas dasar itu, maka gereja kami memutuskan untuk belajar dari gereja Katolik yang telah lama memiliki tradisi ini. Kami memilih untuk berkunjung dan berziarah ke gereja katolik di Pohsarang.

Fajar hari Sabtu, tanggal 29 Nopember, belum menyingsing, namun kami sudah berkumpul di gereja. Setelah berdoa meminta pertolongan Tuhan, tiga mobil yang mengangkut 15 orang ke arah Solo. Jalan masih sepi. Sesekali kami menyalib truk-truk besar yang berjalan lambat. Sesampai di Pakis, mobil yang dikemudikan pak Bambang Murnanto berbelok kanan menuju arah Baki. Mereka akan lebih dulu mengantar Ny. Budi Nugroho Sulaiman ke Solo Baru. Sementara itu mobil yang saya tumpangi dan mobil yang dikemudikan pak Wim Seimahuira memilih lurus ke arah Kartasura dengan perhitungan jarak yang lebih dekat. Kami bersepakat untuk bertemu lagi di wilayah Perhutani Mantingan, untuk beristrahat sambil sarapan pagi. Namun perhitungan kami meleset. Ketika sampai di wilayah Palur, jalanan sudah sangat ramai oleh anak sekolah dan buruh pabrik. Akibatnya mobil hanya bisa merayap lambat. Rombongan pak Bambang Murnanto justru sampai lebih dulu di titik pertemuan.

Usai sarapan pagi, tanpa membuang waktu, kami melanjutkan perjalanan melewati Ngawi, Nganjuk, Madiun, Kediri, kemudian berbelok ke kanan ke arah Puhsarang. Sampai di lokasi, jarum jam menunjuk 11 (sebelas). Sebelumnya kami membayar retribusi Rp. 6.000,- untuk tiga mobil. Dari tempat parkir, kami harus berjalan meniti tangga sejauh 500 meter sebelum masuk pintu gerbang pertama. Pada bagian luar, berjajar warung sederhana. Yang unik, beberapa warung memutar lagu-lagu rohani dengan suara yang keras. Mungkin ini sebagai alat promosi untuk menarik minat pengunjung. Setelah itu, terdapat kios-kios yang menjual aksesoris kerohanian seperti salib, patung keluarga kudus, lilin, dan jerigen plastik. Untuk apa jerigen plastik? Untuk menampung air yang keluar di gua Maria Lourdess. Mungkin ini semacam air dari sumur Zam-zam yang diyakini umat muslim.

Kios itu juga menjual kaset, CD dan VCD rohani. Ketika saya amati sekilas, semua CD dan VCD yang dijual di sana, semuanya bajakan! Saya bertanya dalam hati:”Apakah orang-orang yang membeli CD atau VCD itu tidak tahu kalau perbuatan mereka ini termasuk pencurian? Lalu apa gunanya mereka beribadah di tempat ini?” Saya tidak menyalahkan para pedagang, sebab sesuai hukum ekonomi ‘ada permintaan maka ada penawaran.’ Seandainya setiap peziarah menyadari bahwa kesalehan yang mereka lakoni juga harus ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, —dalam hal ini mengemohi barang bajakan—tentunya tidak ada orang yang berminat menggandakan dan menjual barang bajakan itu.

Di ujung deretan kios, kami disambut oleh pintu gerbang yang terbuat dari batu kali. Bagian atas melengkung dan tergantung tulisan “Gua Maria Lourdess”. Begitu masuk, langsung terlihat atap bangunan yang mencolok. Bangunannya mirip pendopo dalam arsitektur Jawa, tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata ada perbedaan dan keunikan. Berbeda dengan pendopo yang memiliki empat tiang (soko guru) di tengah, tiang pada bangunan ini justru ada keempat pojok bangunan. Atapnya ditutup menggunakan genting. Uniknya tidak diletakkan di atas kayu usuk, tetapi disusun di atas jaring-jaring kawat baja yang ditarik dan ditembatkan pada keempat tiang besi besar di setiap pojok. Dengan kata lain, bangunan ini mirip sekali dengan tenda di Timur Tengah. Rupanya perancang bangunan ini mendapat inspirasi dari kemah Tabernakel umat Israel. Jika dilihat dari bawah, atap bangunan ini seperti menggelantung pada bagian tengah (Jawa: ngelendhong). Mirip sekali kain tenda yang ditarik pada keempat ujungnya.

Setelah beristirahat sejenal di gedung serbaguna ini, kami berjalan ke area gua Maria. Pada sisi kiri terdapat tebing batu buatan yang sangat tinggi. Pada bagian paling kanan di tebing tersebut, terpasang patung bunda Maria yang snagat besar. Beberapa orang terlihat sedang berdoa dengan khusyuk. Ada pemandangan yang cukup menarik. Saya melihat beberapa perempuan memakai jilbab ada di sana. Entah untuk tujuan apa mereka di sana. Mungkin sekadar plesiran; atau mencari mukjizat kesembuhan; atau untuk tujuan lain. Entahlah, saya tidak sempat berbincang untuk bertanya maksudnya. Tapi setidak-tidaknya saya menangkap aura perdamaian dan cinta kasih di sana.

Tidak lama kami ada di sini, karena tujuan kami adalah ke lokasi Jalan Salib Bukit Golgota, yang ada di paling ujung. Lokasi ini diawali dengan gapura serupa di pintu masuk gua Maria. Begitu masuk lokasi, kami segera menyiapkan diri dalam keheningan. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin dan bunyi batang-batang bambu yang bergesekan mewarnai keheningan. Kami memulai prosesi pada perhentian pertama: Yesus Dihukum Mati. Pada setiap perhentian, terdapat sebuah adegan yang menggambarkan peristiwa tersebut. Adegan-adegan yang digambarkan di tempat ini terbilang istimewa. Pada tempat-tempat peziarah yang lain, prosesi jalan salib biasanya digambarkan dalam wujud dua dimensi atau relief, namun di sini, penggambarannya dalam rupa tiga dimensi. Figur-figur dibuat dalam bentuk patung dengan ukuran yang sebenarnya.

Ada lima belas perhentian yang harus dijalani dalam prosesi jalan salib ini.

Perhentian I: Yesus Dihukum Mati;

Perhentian II:Yesus Memanggul Salib-Nya;

Perhentian III: Yesus Jatuh untuk Pertama kalinya di Bawah Salib;

Perhentian IV: Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya;

Perhentian V: Yesus Ditolong Simon dari Kirene;

Perhentian VI: Veronika Mengusap Wajah Yesus;

Perhentian VII: Yesus Jatuh untuk Kedua kalinya di Bawah Salib;

Perhentian VIII: Wanita-wanita Yerusalem Meratapi Yesus;

Perhentian IX: Yesus Jatuh untuk Ketiga kalinya di Bawah Salib;

Perhentian X: Pakaian Yesus Ditanggalkan;

Perhentian XI: Yesus Dipaku di Kayu Salib;

Perhentian XII: Yesus wafat di Kayu Salib;

Perhentian XIII: Yesus Diturunkan dari Salib;

Perhentian XIV: Yesus Dimakamkan;

Perhentian XV: Yesus Bangkit.

Arah prosesi ini melingkar searah jarum jam dan mendaki ke atas bukit. Pada puncak bukit terdapat Perhentian Keduabelas, yaitu Yesus tergantung di atas kayu salib. Setelah itu, arah pejalanan menurun hingga perhentian terakhir. Pada semua perhentian terdapat patung-patung seukuran manusia dewasa di Timur Tengah, namun pada perhentian terakhir hanya terdapat sebuah goa kuburan yang kosong. Di sampingnya ada batu besar penutup goa yang telah terguling.

****

Dokter Hendropriyono mengaku terkesan dengan prosesi jalan salib ini. Dia sudah lebih dari satu kali berziarah di Pohsarang ini. Tapi setiap kali datang, dia mengaku mendapatkan berkat rohani yang baru. Hal senada diungkapkan oleh ibu Roestanto. Janda pendeta ini juga sudah pernah berziarah di sini, tapi dia selalu merasa mendapat pembaharuan iman setiap kali berziarah di sini. Meski usianya sudah lanjut dan fisiknya sudah lemah, tapi ibu Roestanto masih bersemangat mengikuti proses ini hingga tuntas. Pada perhentian tertentu, dia terlihat menitikkan air mata.

***

Sekitar pukul dua siang, rombongan kami bergerak pulang. Sebelumnya kami mampir di kota Kediri untuk membeli oleh-oleh khas kota ini, yaitu Tahu Pong dan Tahu Takwa. Harganya Rp.1.000,-/besek, isinya 10 potong tahu. Oleh-oleh lain yang juga khas kota ini adalah kopi bubuk, gethuk pisang dan krupuk padang pasair (krupuk yang digoreng menggunakan pasir panas)..

Setelah menyantap makan siang, rombongan bergegas menuju kota Klaten. Perjanlanan pulang lebih lancar daripada keberangkatan. Selepas Maghrib, kami sudah memasuki kota Solo. Maki beristirahat sejenak untuk makan malam di lesehan Kotta Barat. Setelah itu meluncur ke Klaten. Sampai di rumah sekitar pukul delapan malam.

Sunday, November 23, 2008

Teknik Menulis Cepat

Penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam. Jika saat ini Anda masih menulis tentang Obama, maka tulisan Anda tidak akan diminati karena momentumnya sudah lewat.

Untuk itu, kita perlu menguasai teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) kita sebagai bahan tulisan. Jika kita masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi ters

Berikut contohnya:

· Bunga

· Tukang Kebun

· Sederhana

· Anak banyak

· Nakal

· Polisiendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.

a. Kode Kata

Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.

· Kegaduhan

Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi.

Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.

b. Curah Gagasan (Brainstorming)

Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.

Contoh:

Ikan

Rasul Petrus menjala ikan

Yesus ikut makan ikan

Ikan bakar bebas kolesterol

Memancing itu asyik

Menjala hasilnya lebih banyak

Yunus pernah ditelan oleh ikan besar

Hati-hati tertusuk duri ikan

Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus. Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.

c. Menulis Bebas

Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.

Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.

Contoh:

Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.

Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang ngelantur kemana-mana.

Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.

d. Pemetaan Pikiran

Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.

· Catat poin utama, pikiran atau ide utama.

· Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.

· Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan. Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!

Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.

MENULIS BUKU JURNAL

Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (diary) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.

Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.

Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:

Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:practice make perfect (kita bisa karena terbiasa).

Kedua, menyediakan sumber tulisan. Setiap bulan saya harus menulis 11 renungan untuk renungan Blessing. Saya selalu menggunakan jurnal yang saya tulis di blog saya sebagai bahan penulisan. Karena sudah terbiasa menulis jurnal, hal iru memudahkan saya untuk mencari bahan tulisan dengan cepat. Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.

Membaca Cepat

Ketika mengumpulkan bahan-bahan dari sumber sekunder, Anda tidak mungkin membaca keseluruhan bahan sebelum memastikan akan memakai bahan tersebut atau tidak. Ibarat sedang belanja bahan, Anda tidak mungkin meneliti semua bahan masakan yang ada di pasar. Anda harus memeriksa dan memutuskan dengan cepat. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan membaca cepat.

Syarat utama untuk dapat membaca cepat adalah Anda mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang Anda cari. Ketika masuk ke pasar, Anda sudah punya daftar belanjaan. Dengan demikian Anda mudah mencari bahan-bahan. Jika Anda akan memasak steak, maka Anda segera pergi ke bagian daging.

Langkah pertama adalah melakukan pemindaian secara cepat. Anda hanya mencari bagian-bagian yang Anda butuhkan. Ini seperti Anda melihat papan penunjuk los-los di pasar. Anda berjalan dengan cepat dengan tidak menghiraukan barang-barang dagangan yang dipajang. Begitu Anda melihat papan penunjuk bertulis "daging sapi", barulah Anda berhenti, kemudian memperhatikan barang dagangan secara mendetil. Analogi serupa dilakukan ketika membaca bahan pustaka. Anda mencari "papan penunjuk", biasanya berupa judul bab, sub judul atau kata-kata kunci. Ketika sampai pada bagian yang dikehendaki, barulah Anda membacanya dengan tempo yang lebih lambat sehingga dapat memahami isinya.

Ketika Anda membaca uraian secara terperinci, Anda masih perlu menguasai keterampilan membaca yang efisien. Pada saat mulai belajar membaca, kita diajari untuk mengeja huruf demi huruf atau membaca kata demi kata. Ketika kita merasa tidak yakin telah membaca dengan benar, maka kita mengulang lagi kata atau kalimat yang telah kita lewati. Hal ini jelas menyita waktu dan menguras energi. Bayangkanlah otot bola mata Anda harus bekerja keras karena bolak-balik bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya.

Seorang pembaca yang terlatih akan membaca beberapa kata dalam satu blok. Matanya hanya berhenti sejenak pada sebuah blok kemudian berpindah ke blok berikutnya. Dia jarang sekali kembali ke blok sebelumnya. Cara ini akan menghemat waktu dan menambah jumlah informasi yang dapat diserap oleh otak.

Hambatan lain dalam membaca cepat adalah kebiasaan membaca dengan bibir bergerak-gerak. Gerakan otot lebih lambat daripada kecepatan gerak otak. Jika kita membaca dengan gerakan bibir, maka otak dipaksa melambatkan kecepatannya untuk menyesuaikan diri dengan gerakan bibir.

Teknik SQ3R

Teknik ini sangat membantu kita dalam menyerap informasi tertulis. Bagaimana caranya? Teknik ini menggunakan metode penahapan dalam membaca.

1. Survey

Lakukan pemindaian terhadap daftar isi, pendahuluan, bab pertama/pengantar dan bagian ringkasan untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Tentukan apakah Anda akan menggunakan bahan ini atau tidak. Jika ya, maka Anda bisa melangkah ke tahap berikut

2. Question

Buatlah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang sedang Anda cari. Pertanyaan ini dapat digunakan sebagai tujuan utama di dalam membaca buku tersebut.

3. Read

Sekarang bacalah isi buku tersebut. Lewati bagian yang kurang menarik. Ketika sampai bagian yang dapat digunakan sebagai bahan penulisan, bacalah dengan cermat. Dalam hal ini Anda boleh membaca dengan tempo lambat, terutama jika pembahasannya sulit dipahami. Ketika membaca, jangan lupa untuk mencatat bagian-bagian yang menarik.

4. Recall

Ketika Anda membaca uraian yang Anda butuhkan, maka pahami isinya dan ingat-ingatlah bagian itu. Simpanlah kata-kata kunci di dalam ingatan Anda. Proses ini sangat penting jika Anda akan melakukan parafrasa bacaan tersebut sehingga tidak melanggar hal cipta karena melakukan plagiat.

5. Review

Setelah mengingat-ingat, Anda dapat beralih ke tahapan terakhir yaitu mengulas materi yang Anda dapatkan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan membaca ulang uraian dalam buku tersebut, mengembangkan catatan Anda atau mendiskusikannya dengan orang lain. Cara lain yang sangat efektif adalah mengajarkan informasi itu kepada orang lain. Dengan cara ini, Anda akan semakin ingat informasi yang Anda ajarkan.